Ads 468x60px

Featured Posts Coolbthemes

Minggu, 07 Agustus 2011

Amar Ma'ruf Nahi Munkar


Jangan Diam, Karena Diam Tak Selalu Identik "Emas"!





HARI itu, saya mendapatkan pelajaran berharga dari seorang teman wanita. Sebut saja namanya Fitri (30). Hari itu, mantan aktivis masjid kampus yang juga seorang penulis masalah-masalah kewanitaan ini sedang menuju sebuah warnet untuk mengirim sebuah email penting. Di sebelah Fitri, duduk seorang pasangan remaja menggunakan baju SMU. Si wanita, bahkan menggunakan kerudung (jilbab).

Belum lama Fitri menggunakan fasilitas komputer warnet, nampaknya ia telah gelisah dan tidak berkosentrasi. Beberapa detik kemudian, Fitri berdiri dan menghampiri kedua pasangan belia tersebut.

“Anda berdua sekolah di mana?,” ujarnya dengan pertanyaan sangat sopan.

“Sekolah di dekat sini saja mbak, memang ada apa?” jawab si pria.

“Boleh nggak saya bertanya sesuatu, “ lanjut Fitri. “Apakah Anda berdua sudah ingin menikah? Ataukah Anda berdua memiliki masalah dengan orangtua atas hubungan Anda berdua ini?

“Tidak. Kami tak ada masalah dengan ortu. Bahkan kami belum menikah, memang ada apa sebenarnya?,” tanya si pria dengan penuh penasaran.

“Nah, kalau itu masalahnya, Anda tidak boleh semena-mena menampakkan layaknya suami-istri di depan orang seperti ini. Jika Anda ingin segera menikah, atau ingin menikah tapi terbentur orangtua, saya bersedia membantu masalah Anda. Kalau perlu saya akan datangi orangtuamu untuk menjelaskan ini.

“Taukah Anda, bahwa apa yang Anda lakukan itu haram? Anda tak boleh melakukan peluk-cium dan lebih dari itu karena belum menikah. Apalagi Anda melakukan seenaknya di hadapan banyak orang, “ujar Fitri dengan tenang.

Entah karena merasa malu, atau waktu bermain di warnetnya habis, kedua pasangan itu segera beranjak pergi. Drama mengagetkan beberapa menit ini sempat disaksikan puluhan orang. Bahkan termasuk penjaga warnet.

“Saya ini wanita. Mungkin, saya tak mampu melakukan amar ma’ruf nahi munkar melebih layaknya pria. Tapi itulah yang bisa saya lakukan, sebagai bentuk selemah-lemahnya iman, “ ujar Fitri menjelaskan tindakannya itu kepada saya. Terus terang, sebagai pria saya sangat malu.

Mulai dari yang Remeh

Hari itu, aku telah mendapatkan pelajaran luar biasa dari seorang teman wanita saja yang luar biasa ini. Tapi berapa banyak di antara kita mau melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar seperti Fitri?

Banyak di antara kita mengalami hal serupa, melihat langsung kemunkaran. Namun, banyak di antara kita mendiamkannya. Padahal, amar ma’ruf dan nahi munkar adalah poros atau pusat yang agung dalam agama Islam. Kedua-duanya tak boleh dipisahkan. Tegaknya Islam di antaranya karena adanya amar ma’ruf dan nahi munkar.

Secara defenisi, ma’ruf adalah segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah, sedangkan munkar adalah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari Allah.
Agama Islam menyuruh kepada pemeluknya untuk melakukan perbuatan yang baik, dan juga melarang atau mencegah pemeluknya untuk melakukan perbuatan yang keji serta munkar.

Ketika kedzaliman di mana-mana, kemaksiatan merajalela, kebodohan melanda, ketika akhlak manusia berubah menjadi layaknya hewan karena hawa nafsunya, dan bahkan manusia sudah tidak punya hati nurani lagi, saat itu datang Rasulullah Muhammad diutus oleh Allah SWT. Beliau datang untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Masalah ini dijelaskan dalam dalam surat Ali Imran ayat 110 yang artinya,


كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَوْءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرَهُمُ الْفَاسِقُون

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS: Ali Imran: 110).

Dari surat ini, Allah SWT mengatakan sendiri, bahwa umat Muhammad adalah umat terbaik, yang selalu menyeru kepada yang ma’ruf dan senantiasa mencegak kemunkaran. Bukan mendiamkan kemunkaran dan kemaksiatan.

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Barangsiapa melihat suatu kemunkaran hendalah ia merobah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya (ucapan), dan apabila tidak mampu juga hendaklah dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim)

Hadits ini menjelaskan dengan sangat jelas, bahwa kita diminta untuk mencegah kemunkaran sebisa mungkin dan dengan tahapan yang jelas. Pertama dengan tangan, kedua dengan lisan. Baru ketika semua tak mampu dilakukan, maka yang terakhir baru dengan doa.

Namum umumnya kebanyakan di antara kita belum melakukan apa-apa, tetapi memilih yang terakhir. Yang lebih menyedihkan, justru banyak juga di antara kita membiarkan kemunkaran, meski itu di depan mata kita.

Alkisah, Imam An-Nawawi adalah seorang ulama salaf yang dikenal zuhud, wara’ dan bertaqwa. Beliau sederhana, qana’ah dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktu beliau dalam ketaatan. Sering tidak tidur malam untuk ibadah atau menulis.
Beliau juga dikenal menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, termasuk kepada para penguasa sekalipun. Suatu hari, beliau menulis surat berisi nasehat untuk pemerintah dengan bahasa yang sangat halus.

Suatu ketika beliau dipanggil oleh raja Azh-Zhahir Bebris untuk menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang dikenal bertubuh kurus dan berpakaian sangat sederhana. Raja pun meremehkannya dan berkata: ”Tandatanganilah fatwa ini!!.”

Namun beliau membacanya dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan. Tentusaja sang Raja marah. ”Kenapa tak mau menandatangani?” Beliau menjawab: ”Karena berisi kedhaliman yang nyata”. Raja semakin marah dan berkata: ”Pecat ia dari semua jabatannya.”

Tapi sang pembantu raja bingung. ”Ia tidak punya jabatan sama sekali.”
Raja ingin membunuhnya tapi Allah menghalanginya. Maka ketika Raja ditanya, ”Kenapa tidak engkau bunuh saja dia padahal sudah bersikap demikian kepada Tuan?” Sang raja menjawab,”Demi Allah, aku sangat segan padanya.”

Aktif, bukan pasif

Kemunkaran adalah semua yang dinilai jelek oleh syariat, yaitu yang hukumnya haram. Kemunkaran yang diubah adalah yang terlihat mata atau yang sejajar dengan kedudukan mata, dan mengubahnya ketika melihat kemunkaran tersebut.

Kemunkaran yang tidak terlihat mata tapi diketahui masuk dalam pembahasan nasihat. Dan yang diubah adalah kemunkarannya. Adapun pelakunya maka masalah tersendiri.

Mengubah kemunkaran tidak sama dengan menghilangkan kemunkaran. Oleh karena itu telah dikatakan mengubah kemunkaran jika telah mengingkarinya dengan lisannya atau hatinya, walaupun tidak menghilangkan kemunkaran itu dengan tangannya.

Batasan kewajiban mengubah kemunkaran terikat dengan kemampuan atau dugaan kuat. Artinya, jika seorang memiliki kemampuan untuk menghilangkan kemunkaran dengan tangan maka wajib untuk menghilangkan dengan tangannya. Demikian juga jika diduga kuat pengingkaran dengan lisan akan berfaedah maka wajib mengingkari dengan lisannya. Adapun pengingkaran dengan hati maka wajib bagi semuanya, karena setiap muslim pasti mampu untuk mengingkari dengan hatinya.
Diriwayatkan dalam sebuah hadits;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا مِنْ مَجَالِسِنَا بُدٌّ نَتَحَدَّثُ فِيهَا فَقَالَ إِذْ أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

"Dari Zaid bin Aslam dari 'Atha` bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan." Mereka (para sahabat) berkata; "Wahai Rasulullah, Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami untuk bercakap-cakap." Beliau bersabda: "Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut." Mereka bertanya: "Apa hak jalan itu?" Beliau menjawab: "Menundukkan pandangan, menyingkirkan halangan, menjawab salam dan amar ma'ruf nahi munkar." (HR. Buhari, 5761)

Meninggalkan Amar ma’ruf

Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar merupakan salah satu bentuk iqâmatul hujjah (penyampaian hujjah) bagi seluruh umat manusia secara umum, dan para pelaku maksiat secara khusus. Sehingga ketika turun musibah dan bencana mereka tidak bisa berdalih dengan tidak adanya orang yang memberikan peringatan dan nasehat kepada mereka. Mereka juga tidak bisa beralasan dengan hal yanga sama di hadapan Allah Ta’ala kelak.

Allah Ta’ala berfirman:

رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللّهُ عَزِيزاً حَكِيماً

"Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasu-rasul itu diutus. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS an-Nisâ:165)

Karenanya, dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar akan terlepas tanggungan kewajiban untuk melaksanakannya (lazim disebut barâtu dzimmah) dari pundak orang-orang yang telah menjalankannya. Namun jika tidak ada yang berinisiatif menegakkan, maka dosanya akan ditanggung semua kaum Muslim. Dengan demikian, maka kedudukan amar ma’ruf dan nahi munkar sesungguhnya bersifat aktif bukan pasif.

Banyak kemaksiatan di sekitar kita. Di jalan-jalan, banyak remaja melakukan maksiat tanpa ada yang menasehati dan memperingatkan. Di pasar, di mall, bahkan di depat pintu rumah kita sekalipun, maksiat meraja lela. Sayang, tak banyak di antara kita “turun” untuk memberi peringatan dan nasehat. Jika itu terus terjadi, maka kelak orang berpendapat, kemaksiatan adalah sesuatu yang baik dan tidak salah.

Inilah saatnya kita beramar ma’ruf. Marilah kita melakukan sesuatu –terutama dalam menengakkan amar ma’ruf dan nahi munkar—di sekitar kita. Sebab tak selamanya diam itu selalu identik dengan “emas”.*


sumber : AB MAulana / http://www.hidayatullah.com/read/18186/26/07/2011/jangan-diam,-karena-diam-tak-selalu-identik-

Senin, 04 April 2011

Karena anda, ... Dunia mengenal APA ?


karena Bill Gates, dunia mengenal Microsoft.
karena Linus Torvald, dunia mengenal Linux.
karena Steve Jobs, dunia mengenal Apple.
karena Larry Page dan Sergey Brin, dunia mengenal GooGLE.
karena Mark Zuckerberg, dunia mengenal Facebook.
karena Hugh Hefner, dunia mengenal Playboy….

karena Albert Einstein, dunia mengenal teori Relativitas.
karena Newton, dunia mengenal teori Gravitasi...

karena Andrea Hirata, kita mengenal laskar pelangi.
karena Dewa 19, kita mengenal laskar cinta.
karena Ja'far Umar Thalib, kita mengenal laskar Jihad.
karena Sido Muncul, kita mengenal laskar mandiri.....

karena Ulil Abshar Abdalla, kita mengenal JIL.
karena Mirza Ghulam Ahmad, kita mengenal Ahmadiyah.
karena Nur Hasan Ubaidah Lubis, kita mengenal Lemkari/LDII/Islam Jamaah.
karena Taqiyyuddin An Nabhani, dunia mengenal Hizbut Tahrir.
karena Hasan Al-Banna, dunia mengenal Ikhwanul Muslimin.
karena Muhammad bin Abdul Wahhab, dunia mengenal Wahabi/salafi.
karena Maulana Muhammad Ilyas, dunia mengenal Jamaah Tabligh.
karena Hasyim Asy'ari, kita mengenal NU.
karena Ahmad Dahlan, kita mengenal Muhammadiyah.
karena Abdullah Said, kita mengenal Hidayatullah.....

karena kang Abik, dunia mengenal ayat-ayat cinta.
karena salman Rushdie, dunia mengenal Ayat-ayat setan.

karena Charles Darwin, dunia mengenal teori Evolusi.
dan karena Harun Yahya, dunia mengenal Keruntuhan Evolusi.....

karena Ariel Sharon, double Bush, dan banyak lainnya.... dunia mengenal penjajahan atas bumi Islam.
Tapi karena Abdullah Azzam, dunia mengenal Jihad Afghan.
karena Ahmad Yassin, dunia mengenal Hammas.
karena Syamil Basayef, dunia mengenal Jihad Checnya….



karena anda,
...dunia mengenal APA ?

di jalan KEBENARAN ataukah jalan KESESATAN ?

*Sumber= http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1900155432069&set=o.113866331957032

Kamis, 18 Juni 2009

Belajar bersabar atas kekurangan orang tua



Allah telah memerintahkan agar selain mensyukuri Allah, kita juga harus mensyukuri kedua orang tua yang menjadi perantara kehadiran kita di tengah-tengah kehidupan di dunia ini.

SEMUA KETENTUAN telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta. Allah mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk bagi manusia. Seandainya kita bisa memilih tentulah kita akan memilih apa yang terbaik menurut kita. Kita ingin lahir dari orang tua yang memiliki segalanya, orang tua yang kayam mempunyai kedudukan dan jabatan yang tinggi di masyarakat, dan orang tua yang sempurna tanpa cacat sedikitpun. namun kenyataan berbicara lain, mungkin diantara kita ada yang lahir dari keluarga yang tidak kaya, atau dari orang tua yang fisiknya tidak normal. lantas bagaimana kita menjalani takdir semacam ini.

Syukur dan kesederhanaan

bersykur, itulah kinci seseorang dapat hidup secara sederhana dan bersahaja. karunia apapun yang diberikan oleh Allah kepada kita, baik itu berupa kesenangan ataupun kesusahan, adalah sebagai ujian bagi kita, apakah nantinya dengan tersebut kita dapat bersyukur dengan sabat menerimanya atau malah membuat kita menjadi kufur. Allah berfirman dalam QS AnNaml ayat 40 yang artinya " Ini adalah sebagian anugerah Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur." kita akan celaka dunia akhirat apabila ujian tersebut membuat kita kufur. dan Alhamdulillah apabila dengan ujian tersebut kita semakin dekat dengan Allah dan semakin bersyukur kepadaNya.

Begitu juga terhadap kedua orang tua, yaitu ibu dan bapak kita. secara tegas Allah telah memerintahkan agar selain mensyukuri Allah, kita harus mensyukuri kedua orang tua kita yang menjadi perantara kehadiran kita di tengah-tengah kehidupan ini. Surat Luqman ayat 14 menjelaskan hal ini, "Bersyukurlah kepadaKu, dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu."

Apabila kita telah mampu menerima dan bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepada kita, beruoa orang tua yang tidak seperti yang kita harapkan. Maka kita akan mampu untuk hidup dalam kesederhanaan, dan kita akan dapat menjalani takdir yang dikaruniakan Allah dengan hati yang lapang.

Dengan hidup sederhana ini, perasaan minder yang mungkin muncul akibat kekurangan pada diri orang tua kita, insya Allah bakal terkikis dengan sendirinya. kita tidak perlu malu lagi untuk memperkenalkan ibu dan bapak kita kepada orang lain. karena hanya kesombonganlah yang membuat kita tidak dapat menerima kekurangan pada diri sendiri.

kekurangan orang tua tidak hanya kekurangan masalah materi atau fisik saja, kekurangan orang tua juga bisa berasal dari diri kita sendiri. karena tuntutan kita yang terlalu banyak kepada ibu dan bapak kita. tidak sedikit anak-anak yang tidak mensyukuri keberadaan orang tuanya, meski orang tuanya itu bisa dibilang orang yang kaya. perilaku demikian tidak mencerminkan perilaku seorang muslim, sebab seorang muslim akan menerima keadaan tersebut sebagai takdir dari Allah SWT. karena hanya Allahlah yang menentukan kekayaan, jodoh, dan matinya seseorang, seperti halnya dari keluarga mana dan keluarga apa kita dolahirkan. dan Rasulullah SAW mengenai hal ini telah bersabda : "Kemudian diutus malaikat untuk meiupkan ruh padanya, lalu diperintahkan untuk menuliskan empat hal: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya." (HR Bukhari dan Muslim)

Islam juga mengajarkan bahwa segala sesuatu yagn kita kehendaki tidak selamanya akan terpenuhi. FIrman Allah dalam surat AlInsan ayat 30, yang artinya : "Apa yang kamu kehendaki, (tidak dapat terlaksana) kecuali dengan kehendak Allah jua."

Maka seyogyanya kita berkhusnudzon kepada Allah SWT, karena Dia Maha Mengetahui kemampuan manusia. mungkin apabila kita terlahir menjadi orang yang bebas melakukan apa saja kerena mempunyai harta, sehingga kita tidak terkendali untuk melekukan hal-hal yang dapat menghinakan kedua orang tua kita, atau bahkan membinasahkan kita. se[erti pergaulan bebas dan pecendu narkoba.

Dan mungkin dengan ditakdirkan lahir dari orang tua yang tidak kaya, kita menjadi orang yang rendah hati dan sholeh, sehingga dicintai oleh Allah dan RasulNya.

Ketika orang tua sakit

penyakit dapat menghinggapi kita semua. Dan tatkala penyakit itu menimpa salah satu dari orang tua kita, sudah sepentasnya kita sebagai anaknya untuk merawat dan menjaganya. Siti Fatimah putri Rasulullah SAW pun selalu manemani dan berada di dekat pembaringan Rasulullah SAW ketika beliau sedang sakit, putri kesayangan RAsulullah SAW ini senantiasa sabar dalam merawat ayahandanya. Siti Fatimah tidak henti-henti menciumi ayahandanya ketika sakitnya semakin bertambah keras. menunjukkan betapa sayangnya beliau kepada rasulullah SAW.

memang seharusnya penyakit yang diderita orang tua kita, tidak menjadi beban bagi kita, walaupun penyakit tersebut sangat akut. justru keadaan tersebut merupakan saat yang baik untuk menunjukkan bukti rasa sayang kita kepada kedua orang tua kita. sambil merawat mereka dengan penuh kasih sayang serta dengan kesabaran, kita dapat mendoakan atas kesembuhan dan ampunan dariNya.

Ketika orang tua lanjut usia

Dalam memperlakukan orang tua, Allah telah memberikan petunjuk dalam surat Al Isra ayat 23-24 yang artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu mambantah mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan-perkataan yang mulia." dari ayat ini nampak bahwa Islam memerintahkan kepada manusia agar memperlakukan kedua orang tuanya dengan baik. misalnya, apabila kita berdiskusi atau membicarakan suatu masalah dengan ibu bapak kita, karena dengan semakin lanjut usia mereka, tentu daya tangkap suatu permasalahan juga akan semakin menurun, untuk itu kita dituntut untuk mesti bersabar dalam menghadapinya. kita tidak boleh mencela perkataan mereka atau bahkan menghardiknya."

Apabila ketika orang tua kita sudah sangat sepuh dan sudah pikun. dan memperlakukan orang yang sudah lanjut usia tersebut, seperti halnya mamperlakukan anak balita, maka dalam memperlakukan mereka harus penuh dengan ketelatenan dan kesabaran, karena pada umumnya pada usia tersebut selalu menginginkan hal-hal yang tidak lazim, seperti ingin pergi ke rumah saudara sendiri padahal jalanpun mereka sudah terseok-seok, ingin menginap di rumah anak-anaknya secara bergantian, dan karena mereka sudah pikun kadang buang airpun dilakukan di tempat tidur.

Memang orang tua kadang kala berucap agak kasar kepada anaknya, namun kita harus maklum dengan hal tersebut. boleh jadi kita yang bersalah, mungkin orang tua kita sedang menginginkan sesuatu. bukankah waktu kecil kita jika menginginkan sesuatu selalu sambil berteriak-teriak. maka sekaranglah saatnya kita membayar apa yang telah kita perbuat dulu pada orang tua kita.

Oleh sebab itu agar perasaan kita dapat dengan ikhlas merawat kedua orang tua yang sudah lanjut usia tersebut, maka coba kita ingat bagaimana mareka merawat kita di waktu kita masih kecil, bagaimana ibu kita mengandung janin kita selama 9 bulan. Allah berfirman : "Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu." (QS Lukman 14). demikian pula, ayah kita yang bekerja keras untuk membiayai keperluan kita, baik untuk sekolah , membesarkan kita maupun yang lainnya. bersabar merupakan tindakan yang baik dalam mengurus kedua orang tua kita, karena dengan bersabar selain mendatangka pahala, Allah menjanjikan hal lain dalam QS Huud ayat 115 yang artinya "Dan bersabarlah,, karena sesungguhnya Allahtiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan." semoga kita termasuk orang-orang yang sabar dalm merawat kedua orang tua kita.


Rabu, 18 Maret 2009

Arti Sujud dalam Shalat



Sujud merupakan bagian dan unsur terpenting dalam beribadah shalat. sujud mengandung pengertian yang sangat mendalam dalam kehidupan kita. dan sujud jaga merupakan bagian yang sangat tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Abu Hurairah pernah berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda "Sedekat-dekatnya hamba dari Tuhannya adalah seorang yang bersujud, oleh karena itu banyak-banyaklah berdo'a."(HR Muslim, Abu DAud dan Nasa'i)

Apabila kita perhatikan di dalam AlQur'an, akan banyak kita jumpai kata-kata sujud daripada kata=kata ruku'. sebab di dalam sujudlah terdapat momen-momen yang sesuai untuk merendahkan diri seorang hamba di hadapan Khaliknya yang Maha Agung. ketika bersujud seorang mukmin akan dapat merasakan seolah-olah sedang berhadapan dengan Allah. karenannya ketika seorang mukmin bersujud dengan khusuk mereka mencurahkan segala isi hatinya, mengadukan dirinya dan kesedihannya kepada Allah, maka iapun merasakan timbulnya suatu yang dapat menghilangkan kepedihan dan kesusahannya, kelapangan dada serta kemudahan persoalannya hanya kepada Allah SWT.

Bagi orang-orang yang beriman ia akan dapat merasakan bagaimana lezatnya dan manisnya ketika berjumpa dengan Allah saat sujud dalam shalat. sehingga tidak ada waktu yang ditunggu-tunggu selain waktu shalat yang dapat mengantarkannya berjumpa dengan Allah. karenanya tak heran jketika kita membaca sejarah para sahabat RAsulullah SAW dahulu yang hatinya selalu terpaut dengan Allah, meskipun dalam keadaan perang, dalam tawanan orang-orang musyrik, dan pada saat terluka parah ia tetap menjalankan ibadah shalat. seperti halnya yang terjadi dengan Umar bin Khatab. pada akhir hayat Umar ra. karena tusukan pisau, beliau banyak mengeluarkan darah dan sering pingsan. karena semikian parahnya beliau dikira telah wafat. meskipun dalam keadaan udzur seperti itu, jika tiba waktu shalat, seliau segera berdiri lalu pergi untuk mengerjakan shalat. beliau berkata, "Sesungguhnya sangat penting bagi seseorang untuk menjaga shalatnya. barangsiapa tidak menjaga shalatnya, ia tidak memperoleh bagian apapun dalam Islam."

Kejadian tersebut pernah juga dialami sahabat Rasululllah SAW yang bernama Abdullah bin Abbas ra. matanya kemasukan sesuatu sehingga orang-orang menyarankan untuk sementara waktu harus meninggalkan shalat agar matanya sembuh. seketika dia menjawab bahwa dia tidak akan melakukan itu karena Rasulullah telah bersabda, "Barangsiapa meninggalkan shalat, niscaya ia akan menjumpai Allah SWT dalam keadaan Allah murka kepadanya."

Begitu besar nilai ketaqwaan seseorang yang telah merasakan indahnya iman dalam dadanya. walaupun kondisinya sudah parah dan tidak berdaya, namun semuanya itu tidak membuat lupa pada kewajibannya kepada Allah yaitu tunduk dan menyembahnya dalam keadaan lapang maupun sempit. semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang tunduk dan taat kepada Allah SWT. Amieen...

Rabu, 25 Februari 2009

Manfaat Air Bagi Tubuh



manfaat air putih bagi tubuh


air adalah sumber kehidupan bagi semua makhluk. tidak akan ada yang mampu hidup dalam ketiadaan air, dan manfaatnya tak pernah terhitung lagi banyaknya.

siapapun faham jika tubuh manusia mempunyai komposisi cairan lebih dari komposisi yang lain, misalnya lemak dan vitamin. apa yang akan terjadi jika tubuh yang sehari-hari mengeluarkan keringat ini tidak diganti dengan cairan air yang mengisi kekosongan.

keistimewaan air tak pernah habis dikupas sepanjang zaman. sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang silam orang sudah menyadari bahwa air bermanfaat sangat luar biasa pada makhluk hidup, bukan saja manusiam tetapi unutk seluruh kehidupan alam. orang tidak akan mampu hidup tanpa keberadaan air, karena air adalah sumber kehidupan. khusus unutk tubuh manusia, air putih mempunyai lima fungsi utama :

Pertama, menjaga kelembaban organ di dalam tubuh. artinya, bila organ di dalam tubuh kekurangan air, maka bentuk tubuh dan kulit akan mengempis kehilangan kelembaban sehingga kelihatan keriput.

Kedua, untuk menjaga agar darah dan getah bening dalam tubuh mempunyai volume dan kekentalan yang cukup. bila tubuhn kurang cairan, maka darah dan getah bening akan menjadi kental karena cairan di dalam tubuh akan disedot untuk kebutuhan pengentalan tersebut. jika sudah mengental, maka aliran darah tidak akan lancar lagi dan kondisi tersebut, bisanya menimpa karyawan, terutama mereka yang mengalami depresi atau stres karena pekerjaan maupun persoalan keluarga,

ketiga, untuk mengatur suhu tubuh. apabila seseorang kekurangan air, maka suhu tubuhnya akan meningkat, tetapi bila asupan air minum cukup, maka suhu tubuh akan kembali ternetralisir menjadi normal seperti semula,

Keempat, air minum dalam jumlah yang cukup banyak akan mendorong terbuangnya racun atau toksik yang ada di dalam tubuh melalui keringat, air seni atau urine dan pernafasan. terutama bagi penderita ginjal, maka minum air putih sebanyak mungkin adalah terapi paling besar manfaatnya.

manurut dr. Sukarliono dalam Kompas Cyber Media menyebutkan, air yang baik adalah yang tidak berbau, serta tudak mengandung polutan seperti logam berat dan zat kimia seperti kaporit atau tawas. kriteria tersebut terdapat pada air minum dalam kemasan, tapi harus berhati-hati juga, karena tidak semua air minum dalam kemasan steril dari berbagai bakteri dan virus.

keguanaan air putih

1. air sebagai penyembuh alami

minumlah air dalam sehari sebanyak empat gelas. lalu minum lagi dua gelas setiap dua menit. mingkin mula-mula agak sulit, karena harus ke belakang dua sampai tiga kali dalam tiga jam, tetapi setelah itu akan normal kembali.

2. untuk diet

minum air putih satu gelas setiap 11 kg kelebihan berat badan, misalnya tinggi badan 160 cm, dikurangi 110, berat badan ideal 50 kg, sehingga kelebihan berat badan sekitar ada sekitar 75 kg, jadi harus minum air putih sebanyak 2 gelas.

3. untuk menyegarkan tubuh

apabila setiap hendak dan bangun tidur minumlah air putih sebanyak 1 gelas setiap hari.

4. sebagi terapi

mandi dengan air hangat agar berkeringat, lalu pindah ke air dingin, lalu berjalan-jalan sebentar agar berkeringat dan mandi lagi denagn air dingain.

Kamis, 29 Januari 2009

Belajar dari Kehidupan




Belajarlah terus hingga akhir hayatmu.

kalimat itu sering kita dengar, namun tidak banyak diantara kita yang melakukannya. Satu contoh adalah adanya anggapan bahwa belajar itu hanya saat masih berada di bangku sekolah saja, selebihnya bukan dikatakan belajar, padahal bukanlah seperti itu. justru belajar dari kehidupan sehari-hari, memaknai setiap kejadian dan dijadikannya ibrah dalam rangka koreksi dan perbaikan diri adalah sesuatu yang luar biasa.

cobalah untuk berjalan di sepanjang pantai di kenjeran surabaya. kita akan menjumpai banyak anak-anak nelayan yang sedang bermain di pinggir pantai, rumah-rumah berjejer dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, satu deret tidak lebih dari 50 meter ada 25 rumah kecil, tembok banyak dari batako, kayu dan sedikit yang betu bata merah, air bersih relatif sulit didapatkan dan itupun jumlahnya sangat terbatas, mata pencaharian mereka adalah nelayan yang dikerjakan oleh suami, sedangkan para istri atau ibu menunggu di rumah dan bekerja sebagai "pengoncek" (pembuka) kerang atau remis, juga membuat ikan asin agar ikan awet atau tidak membusuk, jadi bisa dibayangkan baunya yang "sedap" dari lingkungan tersebut. apa makna yang bisa kita pelajari dari kehidupan yang seperti itu? tentu banyak hal.

pertama, anak-anak terlahir sebagai anak nelayan yang notabene adalah keluarga miskin tentu Allah mempunyai maksud pada masa depan mereka.

kedua, rumah mereka kecil tetapi mereka bisa hidup bahagia dan berdampingan dengan damai dengan tetangga yang lain.

ketiga, masih banyak orang lain dari segi ekonominya jauh dibawah daripada kita.

keempat, ibu-ibu walaupun di rumah masih mampu membantu suaminya mencari nafkah tanpa harus meninggalkan anak-anak mereka di rumah

kelima, walaupun di bawah garis kemiskinan, namun mereka tidak menyerah untuk terus berjuang mengarungi kehidupan dengan perasaan ikhlas menerima keadaan, dan masih banyak lagi yang lainnya yang bisa kita pelajari dari contoh kejadian di atas.

membuka mata, membuka telinga sekaligus merendahkan hati adalah kunci agar kita mau terus belajar, terus belajar tanpa henti hingga akhir hayat, akan membuat kita terus terjaga dari sifat yang justru merendahkan diri kita. terhindar dari penyakit "sok tahu:, sombong, takabur, merasa paling benar. karena manusia seperti kita ini tidak lepas dari banyaknya kekurangan dan kekhilafan, insyaAllah dengan bersikap positif dan terus mau belajar akan membuat diri kita terjaga. diri kita adalah milik Allah, pasti berpulang kepada Allah kembali, setiap diri kita pasti akan "mati" juga. Wallahu'alam bishawab